03 November 2008

KULINER DI YOGYA

Saat Lebaran adalah saat yang di tunggu-tunggu, di mana masing-masing orang selain merupakan hari yang fitri (Insya Alloh) dan merupakan hari kemenangan setelah satu bulan penuh menjalankan ibadah Shaum (puasa), selain itu juga merasa senang dapat bertemu dengan sanak saudara di kampungnya masing-masing.

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Alloh SWT, sayapun masih bisa bersilaturrahmi dengan keluarga Istri di Yogyakarta, Setahun sudah tidak bertemu secara langsung, rasanya rindu dan kangen terpuaskan.

Tidak menyia-nyiakan waktu, di saat malam hari, setelah waktu Isya (jam 7. 30) an, kami menikmati jajanan di pinggir jalan (lesehan). waktu itu kami memilih di dekat tempat tinggal, yaitu di Jalan raya Timoho, letaknya setelah kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, dari arah UIN sebelah kiri jalan ada penjual baso, namanya (kalau tidak salah) Baso Mas Paino, ternyata langganan istri saya semenjak beberapa tahun yang lalu, sebelum saya sendiri tahu. Kami berempat, Istri saya dan 2 adik dari istri, mulai duduk di bangku pinggir jalan (padahal ada lesehannya), ngga tahu alasannya memilih di bangku, padahal saya ingin sekali di tempat lesehannya he.he.he.. rasanya lebih unik. Dan langsung memesan.

Saya mengakui, pelayanannya cukup cepat, saya lihat ada pembagian tugas, khusus untuk meracik dan membuat adalah bapaknya, dan khusus yang melayani pembeli adalah anak perempuan dengan ramah dan senyum khasnya, sementara Ibunya melayani minuman di tbantu 1 orang anaknya yang laki-laki, sementara anak laki-laki yang satu lagi bertugas mencuci mangkuk, sendok, dan gelas yang kotor.

Jelas, disini ada unsur harmoni dan keseimbangan yang bisa di tampilkan, keluarga yang sangat lengkap, orang tua, Bapak dan Ibunya, 1 orang anak perempuan dan 2 anak laki2.. sungguh patut ditiru dan di praktekan dalam sendi kehidupan yang lain, tidak saja dalam berdagang.. di mana satu sama lain saling melengkapi, tidak ada yang iri dengki dengan tugas orang lain. Mereka saling bahu membahu mewujudkan impiannya. Dan sampai sekarang mereka masih tetap eksis.

Selain adanyanya keselarasan yang mereka tunjukkan, rasa basonya juga tidak kalah enaknya dengan penampilan mereka melayani para pembelinya. Ada rasa khas disini bagaimana tidak proses biar kuahnya tetap hangat menggunakan bara arang. Ada yang unik untuk baso di Yogyakarta, biasanya selain baso yang pada umumnya di jual di kota-kota lain, ada yang di sebut baso gorengnya, tinggal di masukkan ke dalam kuah baso, maknyuss rasanya…!

Alhamdulillah saya merasa puas, dengan rasa basonya yang khas juga pelayanannya, akhirnya saya mendapatkan kembali ilmu dari orang lain. Bahwa dalam berjualan khususnya jualan makanan selain dari rasa yang bisa cocok di lidah, (kalau mengenai enak atau tidak relatif, masing-masing orang berbeda mendefinisikannya), juga harus di barengi dengan pelayanan yang prima, selain harus cepat tersaji juga di barengi dengan kesabaran dan keramahan dari penjualnya itu sendiri. Yang jelas saya merasakan mereka melayani pembeli dengan hati tidak karena terpaksa dan tertekan.

Selamat ya Mas Paino Sukses selalu…!

Wassalam,

Ade Candra.

No comments:

Post a Comment