Dari banyaknya pertunjukan yang di suguhkan, baik itu melalui media layar televisi maupun langsung, di sukai atau tidak, sering di perlihatkan pertunjukan yang di lakukan oleh manusia di temani oleh beberapa hewan, seperti burung yang bisa berhitung, monyet (beruk) yang bisa naik sepeda, macan/harimau yang bisa melonjat lingkaran yang terbakar, dll. Seperti yang di pertunjukkan dalam acara Sirkus, misalnya. Sepertinya hewan-hewan tersebut mengerti apa yang di perintahkan manusia. Barangkali ada hubungan bathin antar mereka.
Saya pernah mengalami kejadian yang serupa, namun tidak dengan hewan/binatang, tapi dengan Gigi…! Saya yakin pembaca tidak akan percaya dengan apa yang saya alami. Begini ceritanya, Karena sudah tidak tahan dengan rasa pusing, kata doketr gigi diakibatkan oleh gigi graham paling belakang yang tumbuhnya miring dan harus di cabut.
Gigi graham tersebut memang keadaannya miring ke depan dan sudah tidak utuh lagi, sudah keropos, tinggal beberapa persen yang tersisa.
Akhirnya saya pergi ke dokter gigi, untuk mencabut gigi geraham yang bermasalah tadi.
Ibu dokter mulai melaksanakan tugasnya, perlahan-lahan alat pencabut gigi mulai beraksi, dan yang kena adalah serpihan-serpihanya saja, dokter tersebut berjuang keras untuk mencabut gigi tersebut, saya pun sampai kecapekan membuka mulut, dan saya minta istirahat sejenak, saya lihat Ibu dokter sepertinya kecapekan juga, sampai-sampai keringat bercucuran, padahal menurut saya cuaca tidak panas, dan susternya pun sampai kebingungan sendiri, akhirnya susterpun membawa kipas angin..!
Akhirnya Ibu Dokter berkata, Mas Ade saya juga pernaha mengalami hal semacam ini di Rumah Sakit tempat saya Praktek, giginya nggak mau lepas juga, akhirnya saya minta tolong ke orang tersebut kalau memang punya ilmu tertentu supaya di simpan dulu, supaya giginya bisa lepas, dan setelah itu giginya pun lepas dengan mudahnya…!
Saya mohon izin kepada Ibu Dokter supaya menghentikan pencabutan sejenak, pertama karena memang saya sendiri kelelahan membuka mulut yang harus lebar, begitu pula dengan Ibu Dokter.
Dalam hati saya berkata kepada gigi, wahai gigiku, bukan saya berniat dan tega melepaskanmu dari tubuhku, tapi karena memang kepalaku sudah tidak tahan menahan pusing setiap saat, jadi saya mohon gigiku, supaya bisa copot dan terlepas tanpa hambatan.
Kemudian saya mempersilahkan Ibu Dokter untuk mencabut gigi saya kembali. Apa yang terjadi pembaca…? Dengan sangat mudah gigi saya yang bermasalah, sekali nyabut langsung terlepas… Alhamdulillah.
Dalam hati saya berkata, terima kasih ya gigiku… engkau mau berpisah demi kebaikan diriku..
0 komentar:
Post a Comment