09 June 2009

Rp. 331.000,-

Saya terkejut dan kaget tidak menyangka, bagaimana tidak setelah berkeliling membawa amplop yang intinya memohon sumbangan sukarela untuk diserahkan kepada rekan kerja yang orangtuanya telah meninggal dunia mudah-mudahan dapat meringankan beban yang di tinggalkan. Amin. Uang yang di dapat berjumlah total Rp. 331.000,-.

Subhanalloh, saya yakin memang dari rekan-rekan yang hanya satu bagian saja, yaitu warehouse (150 orang), bagaimana seandainya semua bagian dapat menyumbang Rp. 1000,- saja.. (semua karyawan di tempat saya bekerja 700 orang). Jadi Rp. 1000 X 700 orang = Rp. 700,000,-…!! Per hari..bagiamana kalau di kalikan 30 (sebulan) dan di kalikan lagi 12 bulan ( 1 tahun) jumlahnya = Rp. 252.000,000,-.. Sungguh dana yang luar biasa besar…!!

Metode demikian, pernah diterapkan di kampung saya di Majalengka, dimana masing-masing rumah telah menyediakan tempat berupa kaleng susu bekas, yang di pasang di depan rumah yang mudah di jangkau petugas siskamling untuk mengambilnya, menjelang sore masing-masing rumah menyediakan beras segenggam (kami menyebutnya beas perelek), atau kalau tidak ada bisa uang serelanya). Alhamdulillah secara konsisten kami melakukannya, kami saling percaya antara yang memberi dengan petugas yang ada, hasilnya mulai kami rasakan, bagaimana kami membangun sarana umum dengan uang tersebut. Namun sayang, kebiasaan yang sudah lama dibangun dengan susah payah tidak di teruskan oleh generasi sekarang.

Di Acaranya Kick Andy juga pernah di bahas seperti yang di lakukan di Majalengka, yaitu di desa Bagendit di Kabupaten Garut, masing-masing rumah berpartisipasi menyisihkan uang yang di kelola aparat desa. Hasilnya mulai terlihat dengan dapat di bangunnya sarana umum, seperti Masjid, jalan yang memadai. Dll.

Seperti halnya, bagaimana memulai membuat sapu lidi, dimulai dari lidi-lidi yang lemah, di gabung menjadi banyak lidi untuk mencapai tujuan bersama, menjadi sapu lidi. Setelah jadi sapu lidi, begitu kuatnya sapu lidi tersebut membersihkan sampah-sampah yang berserakan. Bisa di bayangkan seandainya lidi tesebut bercerai berai, dengan tugas yang sama, menyapu, jelas tidak bisa, bukan..?

Saling percaya dan amanah

Semua yang di lakukan diatas berlandaskan adanya kepercayaan dari pihak yang memberi dengan niat ikhlas dan hanya satu tujuan untuk kepentingan bersama, tanpa di embel-embeli kepentingan pribadi dan golongan, apalagi kekuasaan. Yang kedua adanya rasa amanah bagi yang menjalankan program tersebut, setelah semuanya diambil, dan terkumpul, di laporkan kembali baik itu kepada pengurus maupun warga.

Adalah wajar, apabila pihak yang bertugas untuk mengumpulkan beras/atau uang mendapatkan imbalan, dan itu pun hendaknya di bicarakan dengan semua pihak yang bersangkutan.
Semuanya, berjalan beriringan menuju tujuan yang akan di capai bersama-sama, dan apabila ada keluhan atau saran di musyawarahkan kembali, menuju kemufakatan.

Hanya mimpi dan angan-angan

Semua apa yang saya tulis, saya mengalaminya. Bagaimana setiap ba’da Isya petugas mengambil beras di tempat kaleng bekas dengan suka cita, dan permisi terlebih dahulu. Setelah terkumpul banyak dan pantas untuk di jual, maka di juallah. Hal tersebut terus dilakukan dari hari ke hari, tanpa rasa lelah dan bosan. Saya pun ikut merasakan nikmatnya saling berbagi dan bekerjasama.

Namun, untuk saat ini rasanya saya pesimis bisa mengulang kegiatan seperti itu lagi. Bagaimana tidak, rasa sosial dan kebersamaan sudah hilang, dan luntur sama sekali, yang ada individualis, merasa diri paling mampu, paling kaya, palingsegalanya, dll. Mementingkan diri sendiri tidak peduli akan kesulitan orang lain. Sungguh sedih rasanya…

Saya merasakan hal tersebut diatas dulu sekali, dan rasanya hanya mimpi bisa di wujudkan di masa sekarang ini..! ah.. hanya angan-angan saya saja....sambil menerawang jauh..