07 February 2010

“Pria Panggilan”, sebuah pengabdian



Alhadulillah sudah saatnya tiba, menjadi “pria panggilan”, bagaimana tidak di sebut demikian, saya adalah seorang pria, apabila orang memiliki keinginan untuk di pijat, maka di panggillah saya, jadilah seorang “pria panggilan.”
Karena saya seorang pekerja, yang mulai bekerja dari hari senin hingga jum’at dari pukul 8 pagi hingga pukul 5 sore, kadang hingga pukul 6 sore. Saya tidak bisa memenuhi panggilan yang tempatnya jauh. Kecuali memang dekat. Biasanya kami sepakat di hari antara hari Sabtu dan Minggu. Bisa malam sabtu ataupun malam minggu.
Apabila ada panggilan memijat, yang saya rasakan adalah benar-benar harus menyesuaikan dengan acara dan waktu yang bersangkutan (orang yang di pijat), di butuhkan kesabaran memang. Bagaimana tidak kami sudah sepakat jam 7.30 malam, saya tiba di tempat orang tersebut, tidak langsung ke acara inti, memijat, tapi harus nunggu dulu, mandi yang belum selesai, dan terkadang malah pergi terlebih dahulu dengan ada keperluan tertentu.
Terkadang memang dari orang yang satu ke orang yang lain, memiliki budaya, serta kebiasaan yang berbeda, ada yang penerimaannya santun, dan baik, ada pula yang biasa-biasa saja. Bahkan ada yang memberikan minuman teh panas, benar-benar panas, saking panasnya sampai tidak bisa untuk di minum. Ada-ada saja.
Semua itu alhadulillah dapat saya nikmati, apapun situasinya. Sebuah pengabdian yang tulus dengan niat untuk lebih bermanfaat bagi orang lain yang membutuhkan.
Acara memijat mulai di lakukan (jangan berpikiran yang di pijat adalah wanita) saya menerima pijat khusus pria. Tentu saya menyesuaikan kebiasaan orang yang di pijat, memakai minyak apa, kalau ada pengerokan badan mesti nanya terlebih dahulu, terlalu kencang atau tidak, dll, yang intinya menanyakan bagaimana supaya yang di pijat merasa nyaman.
Satu lagi yang utama adalah selalu menujukan keramahan, dan tidak sombong.
Setiap ada yang di pijat, yang saya perhatikan di tengah-tengah pemijitan, orangnya selalu tidak kuat untuk menahan rasa ingin tidur, dan ternyata benar tertidur pulas. Sampai tidak menyadari bahwa telah selesai.
Di akhir pemijitan,saya selalu memohon maaf apabila tidak berkenan, dan kalau ada yang kurang mohon masukan, dan terakhir saya suka berbicara, Jangan kapok ya untuk di pijat kembali di kesempatan mendatang.
Dari apa yang saya alami tersebut di atas, intinya adalah menjalin tali silaturrahmi dan belajar banyak bagaimana orang lain hidup dan memaknai hidup. Dan kalau di beri sejumlah materi adalah nilai lebih. Terkadang ada yang sudah meminta di pijit sampai dua kali tidak memberikan apa-apa. Bahkan mengucapkan terima kasih pun tidak. Adalah manusia biasa, sampai istri saya berkomentar : ada ya orang yang seperti itu.. Namun karena memang ada rasa iklash, saya pun tidak menyesal, dan berdoa kepada Alloh semoga mejadi amal baik bagi saya dan keluarga.
Hidup adalah sebuah perjuangan, menggapai sebuah keinginan untuk lebih berguna bagi keluarga, saudara dan orang lain.