13 July 2010
MARI HEMAT ENERGI
Ketika saya bekerja pada sebuah Proyek Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU),di Banjarmasin Kalimantan Selatan tahun 1998-2000, saya mulai mengerti bagaimana proses pembuatan energi listrik di hasilkan. Dimulai dari bahan bakar dasar berupa batubara dengan kalori rendah, melalui konveyor yang bergerak dari tempatnya di kumpulkan menuju tungku (boiler) yang berfungsi mendidihkan air, dan menghasilkan uap, dimana uap tersebut dapat menghasilkan tekanan dan dapat menggerakkan turbin, sehingga terciptalah energi listrik. Penggunaan batubara tidaklah sedikit, beribu ribu ton di kumpulkan dalam satu area untuk keperluan PLTU tersebut.
Dari mulai proses awal berupa penambangan batu-bara, tidak sedikit yang harus di korbankan, bagaimana kerusakan lingkungan terjadi, di mulai dengan penggundulan hutan, sampai kepada lubang-lubang besar yang di timbulkan dari penambangan tersebut.
Hasil akhir dari proses pembuatan energi dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap, adalah asapnya, tentu menghasilkan juga gas karbon monoksida, yang lebih membawa bumi kita lebih panas (Global Worming).
Disadari atau tidak kita, secara tidak langsung berperan juga atas terjadinya pemanasan bumi.
Barangkali kita tidak usah menyalahkan oang lain, mari berbenah dan berusaha memperbaiki diri, mulai dari perilaku masing-masing individu maupun keluarga. Mulai dari pemakaian listrik yang seperlunya. Tidak berlebihan. Apabila TV tidak di tonton, adalah lebih baik untuk di matikan. Begitupu dengan lampu-lampu penerangan, pemanas air, setrikaan, AC, dispenser
Di tempat kerja, saya sering menjumpai, bagaimana lampu yang seharusnya mati, masih menyala, dengan perasaan hati yang berusaha sabar saya matikan, dan ini tidak hanya terjadi satu kali saja, akan tetapi sering sekali. Itu satu tempat kejadian, bagaimana dengan di tempat lain, ada berapa titik satu, dua atau jutaan titik, jadi ada berapa jumlahnya energi yang terbuang percuma tanpa ada manfaatnya..? Sungguh kesadaran adalah hal yang utama. Belum lagi pemasangan listrik ilegal, yang tidak berbayar, saya sering melihat ada sebagian orang dengan seenaknya saja mencantolkan listriknya langsung ke tiang listrik tanpa membayar, dll. Perilaku yang merugikan.
Pernah suatu ketika, di rumah ada pemeriksaan listrik oleh PLN dan beberapa aparat kepolisian.
Kami memang terbiasa dengan pemakaian listrik yang seperlunya dan berhemat, namun apa yang terjadi..? kami di tuduh mencuri listrik...! memang tagihan listrik kami setiap bulannya di bawah normal pemakaian orang lain, dan itu jujur dari pemakaian, tanpa ada unsur pencurian seperti yang di tuduhkan kepada kami. Sungguh ironi, kami memperjuangkan pemakaian listrik yang hemat, malah di tuduh yang tidak-tidak. Seharusnya di kasih penghargaan..!
Hemat energi adalah langkah cerdas, untuk mengurangi efek pemanasan terhadap bumi, dimana kita tinggal.
Ketika negeri empat musim nun jauh disana, dengan minimnya sinar matahari, mengupayakan energi yang di perbarukan, energi matahari. Di Indonesia kesungguhan untuk mengarah ke energi matahari sepertinya kurang. Padahal energi sinar matahari jelas melimpah.
Ketika saya berada di Kabupaten Batang Jawa Tengah, dan di Cirebon Jawa Barat, saya melihat lampu penerangan jalannya sudah memakai energi sinar matahari, Alhamdulillah.
Berbicara energi yang diperbarukan, tidak hanya energi sinar matahari yang melimpah, ada juga dari energi angin, gelombang, air (Pembangkit Listrik Tenaga Air) bahkan dari kotoran hewan peliharaan, seperti sapi.
Yang di tunggu, adalah kesiapan dan keseriusan pemerintah untuk lebih menggali, mengembangkan serta mengimplementasikan energi yang di perbarukan tersebut.
Sampai kapan Indonesia bergantung kepada energi fosil.. barangkali tidak sampai 100 tahun, energi tersebut akan habis.
Subscribe to:
Posts (Atom)